Monday, March 14, 2011

cerita tentang sebuah bola

Bintaro, 2008

Suatu sore yang cerah, diiringi dengan suara angin yang merdu, dan sinar matahari yang sedikit terik, dengan tergesa kami berjalan. Aku, Putra, dan Remi menghampiri sebuah tanah lapang yang lumayan besar di dalam komplek kami. Aku ingat saat itu sekitar pukul 15.00 WIB. Kami duduk dipinggir tanah lapang yang terdapat sedikit rumput melambai tertiup angin. Remy membawa bola kaki yang kami beli hampir setahun yang lalu dengan cara patungan. Sebuah bola yang sekarang usang dan berwarna kecoklatan yang sering kami pakai untuk bermain sepakbola di lapangan ini. Melihat bola yang dipegang Remy tersebut, aku teringat sebuah cerita dahulu.

Aku ingat ketika bola kami tersebut diambil oleh pak satpam dan diumpetin didalam posnya karena kami tidak sengaja memecahkan kaca jendela belakang salah satu rumah warga yang memunggungi tanah lapang. Saat itu kami baru memakainya selama seminggu penuh untuk bermain sepakbola setelah kami pulang dari sekolah. Hanya sepakbola yang menurut kami bisa membuat kami melepaskan kejenuhan kami setelah mendayagunakan otak kami di sekolah.

Sambil memegang bola yang didiamkan oleh Remy terbaring di lapang, Putra dengan mukanya yang datar bertanya kepadaku, “Zic, kira-kira sudah berapa bola ya. Yang kita pakai selama kita masih kecil sampai sekarang sudah besar?” Sambil tertawa kecil aku menjawab, “ Mungkin sudah sekitar 70-an lebih kali ya put?”.

Remy yang mendengar kami bertanya-jawab pun bersuara dan menjelaskan tentang cerita semua bola yang kami gunakan. Mulai dari bola plastik yang dulu dimainkan di jalanan beraspal, bola kulit yang diberikan oleh salah satu orang tua kami, bola kulit yang disumbangkan pak RT pada saat itu, bola yang kami beli dengan cara patungan, bola yang pernah kami temukan didalam selokan komplek tetangga yang masih layak pakai sampai sebuah bola bagus standar nasional yang kami dapatkan ketika memenangkan kejuaraan tingkat RW.

Dia pun menjelaskan tentang nasib bola-bola yang kami gunakan. Dari bola yang hilang dicuri anak kampung sebelah, bola yang hancur kena beling, peang, nyangkut di genteng orang, bola yang rusak karena kesalahan kami, sampai sebuah bola yang dulu pernah diumpetin tetangga supaya kami tidak bermain sepakbola lagi. Remy pun menceritakan sebuah kisah yang paling menyakitkan tentang nasib salah satu bola yang kami pakai.

Bola tersebut adalah bola salah satu teman kami yang sudah berhijrah ke wilayah lain, Ceping. Bola tersebut kami akui sebagai salah satu bola yang pewe dan sering kami pakai. Bola itu tak sengaja tersangkut dirumah bapak Nopo (sebut saja) dan ketika bola tersebut ditemukan di lapang sudah tercabik dan tertusuk sebuah pisau. Aku dan Putra pun tertunduk dan mengangguk. Saat itu aku ingat, perasaan kami sangat geram kepada bapak tersebut.

Sebuah suara cempreng pun terdengar, “Andi juga inget pas dulu kecil, pas abang-abang nangis terus mencoba ngelawan kakak-kakak dan om-om yang ngerebut lapangan dan sebuah bola abang-abang dengan seenaknya” Suara Andi yang memotong pembicaraan dan menghampiri kami dengan berlari. “Andi inget pas kita bales ngelemparin batu sambil nangis setelah ditabokin sama kakak-kakak dan om-om itu demi sebuah lapang dan sebuah bola.” Kami bertiga pun tertawa malu mendengar cerita Andi yang menggebu-gebu setelah menguping pembicaraan kami.

“WOY !!”, sebuah kata yang diteriakan 3 jenis suara laki-laki yang berbeda bersamaan. “Sep! Lay! Bet”, balas kami menyambut ketiga teman yang menghampiri tempat kami duduk berempat. Septo, Rifan, dan Aldi. Rifan si anak Batak dengan suara beratnya (namun cempreng) bertanya apa yang sedang kami bicarakan. Dia mengasumsikan ketika sekelompok laki-laki berkumpul dan berbicara, sudah pasti membicarakan BOKEP.

“Dasar boeng lo fan!”, Putra membantah asumsi seorang anak yang baru masuk sekolah menengah atas yang sok tahu teori sosial. Lalu Remy pun menjelaskan bahwa kami sedang membicarakan tentang sebuah bola kaki yang kami gunakan selama ini. Dan ketiga teman kami yang baru saja datang mencoba memasuki alur cerita kami.

“Lo semua pernah inget ga kita pernah debat tentang sebuah bola?”, Septo menyambung pembicaraan kami dan melirikku. Semuanya terdiam dan cengo memperhatikan kalimat pertanyaan Septo.

Aku ingat tentang perdebatan itu dan mencoba menceritakan kepada teman-teman. Sebenarnya itu bukanlah sebuah debat melainkan sebuah pertentangan argumen seorang anak laki-laki yang masih dibalut oleh emosi. Pertentangan argument ini kalo dipikir di zaman sekarang pun menjadi sesuatu yang tidak penting atau non-sense. Pertentangan itu berasal dari kalimat “Bola adalah teman” by: Tsubasa Ozora dalam kartun Captain Tsubasa yang pada saat itu membius masa kecil kami sampai lalai shalat maghrib karena ditayangkan pukul 18.00 WIB.

Saat itu, aku yang berargumen bahwa bola itu bukanlah teman melainkan sebuah musuh. “Bola adalah musuh, makanya kita tendang-tendangin”. Aku ingat saat itu aku masih menginjak kelas 4 atau 5 sekolah dasar. Seorang bocah laki-laki yang masih SD sudah bisa berpendapat seperti itu (heran kan?)

Saat itu juga, secara langsung, aku dimusuhi oleh anak-anak komplek yang entah diprovokasi oleh siapa yang kesannya sangat pro-Tsubasa tersebut. Dan menceramahiku bahwa pendapat tersebut salah. Dan saat itu aku mengiyakan dan kalah T_____________T (derita kalah dari mayoritas)

Aku menunduk setelah menceritakan itu kepada teman-temanku

Setelah cerita itu datanglah tiga teman kami, Aan, Julian, dan Rian (kenapa jadi semuanya akhirannya –an?). Sama seperti kedatangan teman kami sebelumnya, mereka penasaran apa yang kami lakukan sambil duduk-duduk dan tiduran (hanya Septo yang tiduran). Kali ini Putra lah yang menjelaskan kepada tiga teman kami yang baru datang.

Rifan dengan aksen bataknya mulai mencairkan suasana serius di kondisi cuaca sore hari yang sudah mulai berawan. Dia memang sebuah figur anak laki-laki yang humoris dan jarang seriusnya. Tapi, pada saat itu dia bercerita dengan serius. “Bicara tentang sebuah bola, pasti kita bicara tentang sebuah kata yaitu kesakitan”, ujarnya dengan alis mata seperti taunt dari The Rock di Smackdown. Dan kami pun memperhatikan. Lalu Rifan pun melanjutkan ceritanya.

“Pasti lo semua kagak ada yang ga pernah kena bola kan BURUNGnya?”. Kami pun terdiam seakan terdapat jangkrik yang berbunyi “krik..krik..krik”. Memang hal tersebut benar, namun apasih maksud dari guyonannya si Rifan ini? Kami pun melemparinya dengan sandal kami masing-masing.

Septo mengatakan bahwa mungkin ketika seorang laki-laki, burungnya belom kejebret oleh sebuah bola. Itu sebuah hal yang aneh dan menurutnya tidak wajar, setiap laki-laki yang suka bermain bola sudah pasti pernah kena BURUNGnya. *out of topic

“Daripada cerita tentang sebuah bola, mumpung udah rame mending kita mainin saja bolanya bang. Kan sebuah bola bisa bernilai kalau kita memainkannya” ujar Rian yang sok-sokan berpendapat padahal masih SMP. Pendapat Rian mengakhiri cerita kami tentang sebuah bola pada sore itu, dan pada akhirnya kami pun mulai menendang dan menggiringnya lalu memainkannya bersama-sama.

Dengan sebuah bola, kita bisa kenal satu sama lainnya

Dengan sebuah bola, kita bisa menikmati masa kecil

Dengan sebuah bola, kita bisa tertawa bahkan menangis

Memang bola-bola tersebut sudah tidak ada wujudnya, namun bola tersebut sudah tersimpan didalam otak dan hati kami. Hal ini kami wujudkan dengan sebuah cerita tentang sebuah bola.

Hanya dengan sebuah bola..

dedicated to my little family -GNAZ-